Welcome to my Blog

Terima kasih telah mengunjungi blog-ku..
silahkan mendownload materi" atau media pembelajaran dengan gratis..
Dan jangan lupa untuk berkomentar, join dan memberikan saran demi kemajuan blog-ku..

Kamis, 23 Mei 2013

Disgrafia


I.              Definisi Disgrafia


Disgrafia adalah kesulitan khusus dimana anak-anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya kedalam bentuk tulisan, karena mereka tidak bisa menyuruh atau menyusun kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Pada anak-anak, umumnya kesulitan ini terjadi pada saat anak mulai belajar menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya, tapi mempunyai kesulitan menulis. Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD.
Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan. Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.
Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Dysgraphia / Disgrafia adalah learning disorder dengan ciri perifernya berupa ketidakmampuan menulis, terlepas dari kemampuan anak dalam membaca maupun tingkat intelegensianya.Disgrafia diidentifikasi sebagai keterampilan menulis yang secara terus-menerus berada di bawah ekspektasi jika dibandingkan usia anak dan tingkat intelegensianya.

II.            Penyebab Disgrafia
Secara spesifik penyebab disgrafia tidak diketahui secara pasti, namun apabila disgrafia terjadi secara tiba-tiba pada anak maupun orang yang telah dewasa maka diduga disgrafia disebabkan oleh trauma kepala entah karena kecelakaan, penyakit, dan seterusnya. Disamping itu para ahli juga menemukan bahwa anak dengan gejala disgrafia terkadang mempunyai anggota keluarga yang memiliki gejala serupa. Demikian ada kemungkinan faktor herediter ikut berperan dalam disgrafia.
Seperti halnya disleksia, disgrafia juga disebabkan faktor neurologis, yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Anak mengalami kesuitan dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka. Kesulitan ini tak terkait dengan masalah kemampuan intelektual, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.


III.           Karakteristik Disgrafia
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:
1.    Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2.    Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3.    Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4.    Anak tampak harus berusaha keras saat mengomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
5.    Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap, caranya memegang alat tulis sering kali terlalu dekat, bahkan hampir menempel dengan kertas.
6.    Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memerhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7.    Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
8.    Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
IV.          Rekomendasi Pendampingan Disgrafia
Teori konstruksi sosial Vygotsky (Santroks:2004) memiliki tiga asumsi, yaitu:
1.    Kemampuan kognitif anak dapat dipahami hanya ketika mereka mampu menganalisa dan menginterpretasikan sesuatu;
2.    Kemampuan kognitif anak dimediasi oleh penggunaan bahasa atau kata-kata sebagai alat untuk mentransformasi dan memfasilitasi aktivitas mental;
3.    Kemampuan kognitif berkaitan dengan hubungan sosial dan latar belakang sosial budaya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Vygotsky mengemukakan tiga konsep belajar sebagai berikut.
1.    Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu suatu wilayah (range) antara level terendah, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika tanpa bimbingan, hingga level tertinggi, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika dengan bimbingan.
2.    Scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah tingkat dukungan.
3.    Language and thought.
Aplikasi teori Vygotsky dapat digunakan guru dan orang tua untuk membantu anak yang mengalami disgrafia.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:
1.    Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari:
a.    masalah penggunaan huruf kapital,
b.    ketidakkonsistenan bentuk huruf,
c.    alur yang tidak stabil (tulisan naik turun), dan
d.    ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
2.    Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut.
a.    ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital.
b.    ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf.
c.    ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf.
d.    ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
3.    Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
a.    Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
b.    Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
c.    Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
d.    Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
e.    Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
f.     Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
g.    Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
h.    Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
i.      Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
j.      Mengevaluasi pekerjaan anak.
Pelatihan tersebut diulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan disgrafia yang dialami anak hingga terdapat perubahan.
V.            Probabilitas Disgrafia
Sebuah penelitian di Amerika melaporkan, kasus kesulitan belajar yang terkait ketidakmampuan menulis (disgrafia) lebih banyak ditemui pada anak laki-laki. Berkebalikan dengan kesulitan membaca seperti disleksia yang telah banyak diteliti, penelitian tentang kesulitan menulis masih sangat minim, sehingga angka kasusnya juga tidak jelas. Pada penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 5700 anak, diketahui bahwa sekitar 7-15 persen dari jumlah tersebut mengalami gangguan baca-tulis semasa duduk di bangku sekolah. Persentase ini bervariasi, tergantung kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah ini. Anak laki-laki kecenderungannya 2-3 kali lebih berisiko terdiagnosis ketidakmampuan membaca dibanding anak wanita, apa pun jenis kriteria diagnosis yang dipakai.






DAFTAR PUSTAKA

Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Settin Pendidikan Inklusi). Bandung:PT. Refika Aditama
Hernowo. "Mengimpikan Buku Pelajaran yang Mampu, Menyenangkan dan Menyalakan Otak". Disampaikan pada Seminar "Menggagas Buku Pelajaran yang Mencerdaskan", 15 Agustus 2006, Penyelenggara Direktorat Pendidikan Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Departemen Agama, Jakarta.
Soedijarto. "Mana Lebih Penting, Pendidikan Dasar atau Lanjutan?" Tabloid Nakita No. 266/VI/8 Mei 2004.
"Penilaian Perkembangan Anak Didik di TK". Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Disdik Prop. Banten Edisi keempat TH.III Vol.IV/2003.
http://klinikautisindonesia.wordpress.com/2012/11/03/penanganan-terkini-gangguan-belajar-disgrafia-gangguan-menulis-pada-anak/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar